Launching Komunitas Public Speaking LeerSchool

Kader-kader GMKI Cabang Salatiga dalam kegiatan Launching Komunitas public speaking LeerSchool di Yayasan Bina Darma.

Partisipasi GMKI Cabang Salatiga : Deklarasi Perdamaian Mahasiswa Salatiga

Berbagai elemen Mahasiswa pada hari ini Selasa 12 Agustus 2015, mendeklarasikan perdamaian bertema "Harmony in Diversity" yang bertempat di Selasar Kartini Salatiga

Pelantikan BPC GMKI Salatiga 2015 2016

Foto bersama PP GMKI dan BPC GMKI Cabang Salatiga 2015/2016 setelah upacara pelantikan di GKJ Sidomukti Salatiga .

Kunjungan ke Konfercab GMKI Surakarta

29 Juni 2015 GMKI Salatiga bersama GMKI Surakarta dalam konfercab GMKI Surakarta di Tawamangu.

Launching LeerSchool Salatiga

Launching leerschool : LeerSchool merupakan bentuk implementasi kurikulum PDSPK GMKI 2006, dilaksanakan di kampus Bina Darma, selama 2 hari (13-14 Juni 2015).

Tampilkan postingan dengan label GMKI Salatiga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GMKI Salatiga. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2015

Audiensi GMKI Cabang Salatiga dan BKGS

Salatiga, 17 November 2015 GMKI Cabang Salatiga mengadakan Audiensi dengan pihak Badan Kerjasama Gereja-gereja Salatiga (BKGS). Audiensi dimulai pada pukul 10.12 WIB -12.00 di kantor BKGS yang berlokasi di jalur lingkar selatan, 700m dari perempatan salip putih menuju Semarang . 
Foto bersama pengurus BKGS

Jumat, 28 Agustus 2015

GMKI Cabang Salatiga: Kunjungan GMKI Cabang Sidikalang

Oleh, Elyan Mesakh Kowi
SekFung Pendidikan Kader GMKI Cabang Salatiga

Foto bersama, dari kiri ke kanan KaBid KHI PP GMKI, SekCab GMKI Salatiga, KaBid Or GMKI Sidikalang, KeCab GMKI Sidikalang, KeCab GMKI Salatiga


Salatiga, 28 Agustus 2015, Setelah mendapat kunjungan dari teman-teman GMKI Cabang Purwokerto beberapa minggu lalu, kali ini GMKI Cabang Salatiga kembali mendapat kunjungan dari teman-teman GMKI Cabang Sidikalang dengan di temani oleh Ketua Bidang Hubungan Internasional GMKI.

Bertempat di Yayasan Bina Darma diskusipun dimulai dengan beberapa agenda; strategi implementasi kurikulum PDSPK 2006, masalah spiritual kader, dan sharing.

Dalam agenda pembahasan yang pertama, hal yang menjadi masalah dalam implementasi kurikulum PDSPK 2006 adalah menemukan pola stategi yang tepat dimana pola yang selama ini cenderung terkesan hanya sebatas pelatihan tanpa adanya kesinambungan. pola seperti ini dirasa kurang efektif, mengigat kader membutuhkan wadah setelah mengikuti pelatihan tersebut guna terus mengasah dan mengembangkan potensinya.

“strategi implementasi dengan prinsip long life education. semua kader harus terus belajar tidak terkecuali, lalu pola strategi harus berkontekskan cabang“, ungkap Ketua Cabang GMKI Cabang Salatiga.

Kemudian merespon keadaan GMKI yang terlihat akan krisisnya nilai-nilai spiritualitas, maka Kabid HI mengusulkan “masalah spiritual kader” dalam agenda diskusi, mengingat pentingnya nilai spiritualitas sebagai bagian profil kader yang harus terpenuhi guna menjawab visi GMKI.

Sharing-sharing menjadi agenda selanjutnya sekaligus agenda terakhir. Dalam agenda penutup ini Kedua Cabang lebih menjelaskan mengenai kondisi, perkembangan, dan juga masalah yang dihadapi.

Suasana Saat Sesi Materi Creative Writing dalam kegiatan Leerchool GMKI Cabang Salatiga        Suasana Saat Sesi Materi Creative Writing Setelah diskusi berakhir maka teman-teman GMKI Cabang Sidikalang dan juga KABID HI GMKI, diajak untuk mengikuti kegiatan Leerchool dan Launching Komunitas*, yang pada hari itu juga sedang dilaksanakan oleh GMKI Cabang Salatiga.

Rabu, 12 Agustus 2015

Partisipasi GMKI Cabang Salatiga : Deklarasi Perdamaian Mahasiswa Salatiga

Partisipasi GMKI Cabang Salatiga : Deklarasi Perdamaian Mahasiswa Salatiga

Oleh, Elyan Mesakh Kowi
Anggota GMKI Cabang Salatiga


foto bersama mahasiswa salatiga yang terdiri dari berbagai Organisasi



Berbagai elemen Mahasiswa pada hari ini Selasa 12 Agustus 2015 mendeklarasikan perdamaian yang bertempat di Slasar Kartini Salatiga.
Kegiatan yang di mulai pukul 09.00 dan berakhir pada 10.30 diawali dengan doa bersama, kemudian pembacaan deklarasi perdamaian yang berisi beberapa poin penting sebagai berikut :

Kami akan menjunjung tinggi Ideologi Bangsa.
Kami akan menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kami akan merawat keragaman budaya Indonesia dalam rangka merawat Indonesia.
Kami siap menjadikan Kota Salatiga sebagai Kota Percontohan Kerukunan dan Perdamaian di Indonesia.

Selanjutnya Mahasiswa diberi waktu untuk membubuhi tanda-tangan disebuah spanduk yang telah disediakan sebagai bentuk partisipasi dan dukungan terhadap deklarasi tersebut. Kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama dan akhirnya di tutup dengan doa bersama.

Adapun Organisasi Mahasiswa yang ikut berpartisipasi yaitu HMI Cabang Salatiga, PMII Kota Salatiga, IMM Kota Salatiga, KAMMI Kota Salatiga, HIMPPAR Salatiga, HIPMMA Maluku, KEMAMORA Maluku Utara, PERWASUS Sumba,Mahasiswa Etnis Manado, Mahasiswa Etnis Toraja, IKMAPOS Poso, PERKASSA Kalimantan, Mahasiswa Etnis Bali, Mahasiswa Etnis Jawa, Mahasiswa Etnis Palembang, IGMK Batak Karo, dan GMKI Cabang Salatiga.

Tema yang menjadi dasar kegiatan ini yaitu,  “Harmony in Diversity :merawat keragaman merawat indonesia“.

Keragaman merupakan keunikan yang dimiliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia, keragaman atau pluralisme yang ada menjadikan Indonesia negara yang khas, unik dan benilai. Namun di sisi lain pluralitas dapat menciptakan konflik atau perpecahan dalam suatu negara akibat ketidak saling pengertian, missed communication , hal inilah yang harus di perhatikan dan dicermati.
Kehidupan Berbangsa dan Bernegara bisa diibaratkan seperti sebuah kehidupan keluarga, dimana dalam sebuah keluarga relasi menjadi kuncinya. Keharmonisan akan tumbuh, hidup dan berkembang dalam keluarga jika relasi antar setiap anggota keluarga intens dilakukan.

Relasi yang intens menjadi penting dalam keluarga karena meminimalisir kesalahpahaman dalam keluarga, yang nantinya akan mengakibatkan konflik, intensitas relasi dan komunikasi mejadi alat untuk mendekatkan setiap anggota dalam keluarga dan menjadi kunci menuju keharmonisan.
Begitupun halnya dengan kehidupan bermahasiswa. bagaimana kita bisa merawat keharmonisan dalam kehidupan bermahasiswa?.

“Dibutuhkan ruang publik untuk saling bertukar pikiran antar mahasiswa, ruang itu sendiri dapat menjadi ruang saling memahami, dan juga sebagai ruang relasi antar mahasiswa. Contohnya seperti Deklarasi Damai yang saat ini sedang kita lakukan bersama, inilah ruang publik tersebut, kiranya ruang-ruang seperti ini lebih intens diselenggarakan guna menjaga relasi antar mahasiswa demi menciptakan kehidupan yang harmoni itu sendiri.” 

Ruang publik menjadi sarana guna memberikan pemahaman yang utuh akan kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam hal ini konsep kesatuanlah yang menjadi intinya. Pemahaman akan konsep kesatuan, menjadi nyata dalam refleksi akan nilai-nilai dasar NKRI yaitu Pancasila, Pancasila menjadi Spirit yang selalu menyatukan kehidupan berbangsa dan bernegara.


Kader-kader GMKI Cabang Salatiga seusai kegiatan Deklarasi Perdamaian Mahasiswa Salatiga bertema "Harmony in Diversity"


Namun kurangnya pemahaman yang holistik atau keseluruhan akibat intensitas relasi dalam ruang publik sebagai bentuk refleksi kembali akan Nilai-Nilai pancasila, menjadikan Pancasila dimaknai secara sempit.
Untuk itu ruang publik (secara khusus dalam lingkup mahasiswa) harus dibuka lebih dan secara intens dilakukan, guna menjadi ruang refleksi akan nilai-nilai kesatuan, ruang saling tukar-pikiran, saling memahami, dan mengerti, antar masyarakat dan terkhususnya mahasiswa demi kehidupan yang harmoni .

“Intensitas relasi dan komunikasi mejadi alat untuk mendekatkan dan menjadi kunci menuju keharmonisan.”
Salam Mahasiswa, Syalom 
Ut Omnes Unum Sint.

Sabtu, 04 Juli 2015

TEMU KANGEN & DISKUSI BARENG SENIOR

Di akhir pekan,Sabtu, 4 juli 2015, kami Kader GMKI Cabang Salatiga (BPC dan anggota) mendapat kesempatan berjumpa dengan senior-senior dalam “TEMU KANGEN & DISKUSI BARENG SENIOR” kegiatan ini berawal dari kunjungan Bang Eka ke salatiga, sehingga kami memanfaatkan momen ini untuk berjumpa dan berdiskusi bersama. Dalam kegiatan ini juga turut hadir Om Darma dan Om Jefri.

Diskusi Bareng Bang Eka dan Om Darma



Dalam kesempatan berdiskusi ini kami banyak mendengar pandangan-pandangan dari senior-senior untuk membangun kualitas kader melalui sekolah latihan pendidikan kader GMKI Cabang Salatiga atau yang lebih dikenal dengan sebutan “LeerSchool”. Membangun kualitas kader dengan menambahkan sejumlah kompetensi, seperti : kemampuan berbahasa dan ketrampilan berpikir ,yang harus dimilki oleh kader-kader GMKI Cabang Salatiga dalam mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan dan tantangan global.
Suasana "TEMU KANGEN & DISKUSI BARENG SENIOR"

Adapun yang menjadi pembicaraan serius kami adalah penanaman kebiasaan-kebiasaan sebagai pembelajar,seperti : rasa ingin tahu yang mendalam, dan juga melatih kepemimpinan yang bertanggung jawab sesuai nilai-nilai kristen.lebih jauh Bang Eka memberi referensi bacaan dari buku seven survival skills yang ditulis oleh tony wagner.  Selain itu juga Om darma banyak memberikan masukan dalam pembahasan yang lebih serius tentang kompetensi berpikir metodologis yang harus terus dikembangkan dalam praktek-praktek sederhana, seperti logika berpikir, berpikir kritis dan penelitian dalam skala kecil secara berkelompok.
Pesan-pesan ini memberi kami motivasi dalam membentuk karakter kami sebagai kader GMKI, diakhir perpisahan kami juga mendapat dukungan secara materil dari bang eka dan berpose bersama di depan kantor Kampus Bina Darma,sebelum Bang Eka kembali ke jakarta melalui jalur penerbangan semarang.
Kader GMKI Cabang Salatiga bersama Bang Eka

Terima kasih Abang atas kunjungannya.Kunjungan ini sangat berarti bagi kami kader-kader GMKI Cabang Salatiga karena telah memberikan dukungan secara materil dan moril juga motivasi demi keberlanjutan cabang.
Kader GMKI Cabang Salatiga bersama Bang Eka

Tinggi Iman,Tinggi Ilmu,Tinggi Pengabdian kita

Ut Omnes Unum Sint

Minggu, 29 Maret 2015

Futsal Bareng GMKI Cabang Salatiga

Kader GMKI Cabang Salatiga berpose setelah Futsal Bareng
kegiatan Futsal Bareng GMKI Cabang Salatiga dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan keakraban dan kebersamaan, "bermain futsal bareng yuk" demikianlah ajakan yang sering di informasikan ke anggota-anggota, kegiatan berdasarkan hobi ini sering dilakukan dalam bentuk lainnya.Anggota dan BPC bersemangat dalam kegiatan yang dilakukan pada hari minggu pagi ini (29 maret 2015), kemudian dilanjutkan dengan mengikuti ibadah di minggu sore.

Rabu, 17 Oktober 2012

Pernyataan Sikap "Pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)"


Jumat, 31 Agustus 2012

PDSPK GMKI; Menjawab Kebutuhan Kader

Oleh : Evan Adiananta

Alex Mirakaho sedang menjelaskan
materi Metodologi Penelitian dan Desain Penelitian
Untuk membentuk kader yang memiliki spiritual, integritas, dan profesionalitas yang tinggi, Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Salatiga telah melaksanakan Pola Dasar Sistem Pendidikan Kader (PDSPK) Level 1, di Muria Training Center, tanggal 17-19 dan 24-26 Agustus lalu.

Meskipun pendidikan kader ini telah tersistematisasi dari Kurikulum PDSPK GMKI 2006, namun dalam pelaksanaannya tetap memiliki fleksibilitas. Artinya, menyesuaikan dengan keunikan organisasi yang berkaitan dengan perkembangan kebutuhan kader dan laju medan layan (gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat) di tiap cabang.

“Sebelum kami (BPC) melaksanakan PDSPK Level 1 ini, BPC telah menginventarisir kebutuhan para peserta. Agar PDSPK Level 1 ini, juga dapat menjawab kebutuhan kader di cabang Salatiga, terutama dalam meningkatkan kapasitas dan kemampuan diri peserta,” tegas Fredy Umbu Bewa Guty, Ketua Cabang GMKI Salatiga.

Selama tiga hari, 18 peserta dari berbagai disiplin ilmu, mendapatkan materi-materi dari 4 fasilitator yang dibantu oleh 4 co-fasilitator. Hari pertama PDSPK (17/8), para peserta mendapatkan materi mengenai manajemen waktu, dari Ricky A. Nggili. Yang lanjut dengan motivasi dan materi menulis artikel populer, dari Semuel S. Lusi. Dan diakhiri dengan materi berpikir kritis dan analitis dari Jubhar Mangimbulude.

Di hari kedua (18/8), Semuel memberikan materi mengenai sistematika menulis bagi para peserta. Kemudian dilanjutkan oleh Ricky dengan materi manajemen keuangan pribadi. Lalu, berakhir dengan pemberian materi mengenai teknik berbicara dan presentasi, dari Alex Mirakaho.

Sedangkan di hari ketiga (19/8), para peserta mendapatkan materi metodologi penelitian dan desain penelitian selama satu hari penuh, dari Alex. “Mata kuliah 3 semester menjadi sangat jelas hanya dalam kurang lebih 8 jam hari ini (19/8). Proses berkualitas selama satu hari yang nilainya lebih dari 3 semester,” komentar Lussua Hanyi, salah satu co-fasilitator PDSPK.

Setelah itu, tiga hari di minggu berikutnya, para peserta diarahkan untuk langsung mempraktikkan materi yang telah didapatkan di lapangan. “Mulai dari tidak tahu, bingung, galau. Kemudian berusaha mencari tahu, belajar, mencoba latihan, dan praktik. Sekarang, sedikit demi sedikit mulai tahu,” kata Fredy sambil tersenyum.

Sesaat setelah penutupan PDSPK berakhir, para peserta diminta komitmennya untuk tetap terus mengembangkan apa yang sudah didapatkan melalui kelompok kecil, yang nantinya juga akan meneruskan pelaksanaan PDSPK di periode BPC selanjutnya.

“Kami, atas nama BPC, mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah terlibat dalam pelaksanaan PDSPK ini. Dan kami berharap, agar teman-teman peserta berkomitmen untuk tetap terus mengembangkan apa yang telah didapatkan di sini. Sehingga, di kemudian hari teman-teman bisa meneruskan pendidikan kader ini di periode-periode (baca: kepengurusan BPC) selanjutnya,” pesan singkat Fredy.

Minggu, 22 Juli 2012

Menulis; Mencitrakan Diri

Oleh : Fredy Umbu Bewa Guty 


Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Salatiga mengadakan Pelatihan Menulis pada Sabtu (21/7). Pelatihan yang diikuti oleh sekitar 15 orang itu, mengambil tempat di Ruang Rapat Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana.

Semuel S. Lusi turut hadir sebagai salah seorang pelatih. Dia adalah salah penulis buku motivasi The Real You The Real Success terbitan Gramedia Pustaka Utama, serta Senior Member GMKI. Sem (panggilannya), menyampaikan sesi Motivasi Menulis, dengan membawa materi yang bejudul “Menulis Itu Asyik; Sebuah ProvoAksi”.

“Menulis itu sama seperti mencitrakan diri anda sendiri. Kalau tulisan anda jelek maka itu diri anda,” kata Sem. Ia juga mengatakan, kegiatan menulis yang dilakukannya itu dapat menjaga idealismenya, sekaligus bisa menghidupinya secara ekonomi. “Sambil latihan renang di Muncul, tiba-tiba dapat sms kalau royalti dari buku sudah masuk ke rekening,” tambah dia.

Pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta kegiatan bertanya tentang bagaimana mengelola tulisan sehingga dapat sesuai dengan patokan jenis tulisan ideal, seperti artikel, feature, opini, dan lain sebagainya. Sem dengan singkat menjawab, “Yang penting menulis. Tulis saja!” kata Sem. Di akhir sesinya Sem mengingatkan kepada para peserta bahwa kegiatan menulis itu menyenangkan apabila terus-menerus dilakukan. “Kalau menulis itu terus dilakukan, bisa dibayangkan kalau kita (penulis) yang dikuasai oleh tulisan kita,” pungkasnya.

Pelatihan Menulis ini dilaksanakan selama 2 hari, dari Sabtu sampai Minggu. Dengan pesertanya yaitu sebagian dari anggota GMKI cabang Salatiga, dan sebagian yang lain adalah para redaktur tulis Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum UKSW.





Kamis, 17 Mei 2012

Baru Hidup Bersama GMKI

Oleh: Evan Adiananta

Awalnya, beberapa temanku sedikit kaget dengan keputusanku untuk masuk Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Tidak ada pemikiran, bahkan tidak ada niat sama sekali sebelumnya untuk bergabung dengan organisasi ini. Karena dari namanya (GMKI) saja sudah mengusung salah satu unsur yang paling tidak aku suka, yaitu agama –tidak peduli dengan agama apapun itu.

Aku memang lahir di keluarga Kristen dan secara status di KTP masih Kristen, tapi aku merasa tidak beragama, ya, jangankan beragama, bertuhan saja aku belum bisa. Aku memang belum bertuhan, tapi bukan berarti aku seorang ateis, aku menggolongkan diriku sendiri sebagai agnostik, di mana aku masih menunda kepercayaanku akan ada atau tidak adanya eksistensi Tuhan itu sendiri. Belum bertuhan bukan berarti aku tidak akan bertuhan pada nantinya, siapa yang tahu? (Mungkin hanya Tuhan yang tahu).

Menariknya, meski aku seorang agnostik, GMKI ini tidak menutup dan mengeksklusifkan dirinya sebagai organisasi yang hanya untuk mahasiswa beragama dan beriman Kristen saja. Dengan tangan terbuka, mereka menerima aku sebagai anggotanya, bukan sekedar anggota organisasi, tapi lebih pada anggota keluarga. Di sini, aku tidak lagi dinilai dari agama, suku, gender, dan usiaku. Tapi lebih dilihat sebagai seorang manusia, yah, itulah yang namanya memanusiakan manusia.

Bagaimanapun setiap manusia memiliki iman mereka sendiri-sendiri, dan itu tidak bisa diganggu gugat. Meskipun sama-sama dari kelompok agama yang sama, tetap ada kemungkinan bahwa keimanan mereka berbeda-beda, entah itu iman yang seperti apa, kenapa bisa mengimani itu, dan bagaimana cara mengimaninya? Semua memiliki pengalaman imannya sendiri –itulah yang aku sebut sebagai perjalanan spiritual, bukankah setiap manusia akan mengalaminya?

Pengalaman “kemasukkan” anggota dari luar agama Kristen, bukan hanya saat aku masuk saja. Ada cerita bahwa dulu di Salatiga pernah ada orang Muslim yang ikut aktif mengembangkan diskusi di GMKI Salatiga. Sayangnya aku tidak tahu siapa namanya, karena itu sudah terjadi cukup lama, tapi yang jelas itu pernah terjadi, dan kalau tetap tidak percaya, silahkan cari sendiri di arsip-arsip GMKI yang pastinya begitu banyak. Hahaha.

Dan sebenarnya, keterbukaan macam inilah yang membentuk salah satu alasanku bergabung. Mengapa? Karena aku suka yang buka-bukaan. Hahaha. Maaf, keceplosan. Maksudku lebih dilihat dari sudut pandang pendidikan. Pendidikan yang bagaimana? Ya, pendidikan yang semua-mua, entah pendidikan organisasi-kah, pendidikan pluralisme-kah, bahkan pendidikan romantisme juga ada. Lengkap ‘kan? Jadi bagaimana model pendidikan di GMKI ini?

Belajar di sini tidak akan membosankan, karena suasana dan topik pembelajarannya bukan melulu mengenai organisasi, kader, politik, dan tetek-bengek semacamnya. Pendidikan pluralisme pun aku dapatkan secara otomatis, ketika aku mengauli dan digauli setiap harinya oleh orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Ketika hidup sama-sama senang ketika ada rejeki, hidup sama-sama susah ketika akhir bulan mencekik perut. Dan ketika saling bertukar kebudayaan, dari kata-kata makian untuk keakraban, sampai informasi mengenai kearifan lokal masing-masing. Atau ketika berdiskusi membicarakan semua hal yang bisa diperbincangkan, mulai dari filsafat yang (aku lihat) cenderung dibenci, hingga percintaan orang muda yang paling aku gemari.

Jadi, apa saja yang aku lakukan dan dapatkan dari GMKI selama beberapa bulan ini setelah aku masuk? Ya, yang seperti aku tuliskan di atas nah. Tidak percaya (lagi)? Silahkan cari sendiri ketika masuk GMKI. Hahaha.

Kamis, 10 Mei 2012

Krisis BBM: Kristus Bangkit Bagi Manusia (Sebuah Refleksi KebangkitanKristus)

Oleh: Evan Adiananta

Kamis, 3 Mei yang lalu, GMKI Cabang Salatiga mengadakan perayaan paskah di GKI Soka, Salatiga. Meski Hari Raya Paskah sudah lewat beberapa minggu karena ada beberapa kemungkinan yang membuat perayaan harus tertunda, mereka (GMKI) tetap memiliki rasa tanggung jawab di salah satu medan layan, yaitu gereja. Dengan tema “Krisis BBM: Kristus Bangkit Bagi Manusia”, GMKI bukan sekedar untuk bernyanyi memuji Tuhan dan mendengarkan khotbah, namun mereka juga mengajak beberapa kelompok etnis dan Komisi Pemuda GKI Soka untuk ikut merefleksikan Paskah dengan keadaan bangsa sekarang.

Paskah yang secara sederhana boleh diartikan sebagai pembebasan umat manusia dari dosa oleh kebangkitan Kristus, sebisa mungkin perefleksiannya tetap relevan dengan masa sekarang. Karena bila kebangkitan Kristus hanya dilihat sebagai penebusan dosa, maka tidak akan ada bedanya dengan dongeng anak-anak sebelum tidur. Jadi, bagaimana kita bisa coba lihat Paskah itu dari sisi lain? Apa tantangan kita –sebagai pemuda dan mahasiswa—untuk masa sekarang?

“Tantangan pemuda masa sekarang beda dengan pemuda yang lalu. Kebebasan yang mereka dapatkan sekarang, bisa membuat mereka terasing dengan dengan kebebasannya sendiri. Seperti kata Sekretaris Umum Sinode GKJ ketika kita sedang berdiskusi, bahwa pemuda dan mahasiswa sekarang sudah tidak pernah memperbincangkan politik. Mereka hanya peduli mengenai kuliah dan kehidupan hedonis yang memberikan kebahagiaan semu. Ini adalah tantangan kekinian,” penggalan kata sambutan dari Fredy Umbu Bewa Guty, selaku Ketua GMKI Cabang Salatiga.

Secara pribadi, aku memaknai penggalan di atas bukan hanya ingin mengatakan tantangan mahasiswa sebatas ketertarikan dan keikutsertaan dalam dunia politik. Aku lebih memaknainya sebagai tingkat kesadaran mahasiswa –yang konon katanya sebagai kaum intelektual—dalam menjalani tanggung jawab sosialnya dalam masyarakat. Mungkin sedikit terasa omong kosong ketika aku –yang juga masih berstatus mahasiswa—mencoba mengkritik tingkat kesadaran mahasiswa akan tanggung jawab sosial, memangnya kesadaranku sendiri sudah setingkat dewa apa? Tidak. Aku tidak hanya mengkritik mahasiswa lainnya, tapi aku juga mencoba mengkritik diri sendiri. Mari kita coba lebih dalam mengkritik –jika tidak suka menggunakan kata mengkritik, gunakan kata merefleksi—diri sendiri sekarang.

Kebangkitan Kristus tidak bisa lepas dari proses kematian-Nya di kayu salib. Proses itu terbingkai dalam sebuah drama “kesadaran” akan tokoh-tokoh yang berperan cukup penting; seperti Herodes dan Kayafas yang secara sadar merasa tersaingi dan takut posisinya tergeser oleh Yesus; seperti Yudas yang secara sadar menjual Yesus untuk bisa menjadi pelopor gerakan melawan penjajah Romawi, sayangnya dia salah perhitungan, akhirnya mati bunuh diri karena menyesal; dan seperti Pontius Pilatus yang dengan sadar bahwa dia tidak bisa menemukan kesalahan Yesus, tapi dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena keinginan orang banyak; serta Petrus yang takut dalam kesendiriannya, hingga akhirnya dia sadar telah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, setelah ayam berkokok.

Kesadaran diri sangatlah penting dalam mengkritik atau merefleksi diri sendiri, karena tanpa adanya kesadaran, kita sebagai manusia tidak akan mau untuk melihat, yang kemudian memperbaiki kekurangan dan keburukannya sendiri. Aku menjadi teringat akan diskusi dengan seorang teman mengenai makna kematian Yesus, terutama ketika Yesus bersorak meminta Bapa untuk mengampuni manusia yang tidak mengetahui apa yang mereka perbuat. Temanku memaknai permintaan itu bukan lagi sekedar pengampunan dosa manusia, tapi lebih pada keinginan dan peringatan Yesus untuk manusia bisa meningkatkan kesadarannya hari demi hari, tidak pernah berhenti untuk semakin mendekati tingkat kesadaran yang sama seperti Yesus.

Jika tingkat kesadaran manusia terus menerus naik tingkatannya, maka permasalahan-permasalahan manusia yang timbul akibat kurang kesadaran, seperti menyakiti perasaan orang lain, tidak peduli terhadap lingkungan sekitar, dan hanya mementing diri sendiri –padahal hidup dengan orang banyak, bisa sedikit demi sedikit teratasi. Itu semua karena kesadaran yang terbentuk, bahwa manusia tercipta tidak hidup sendirian, tapi berdampingan, saling membutuhkan, dan saling peduli –tidak peduli umur, jenis kelamin, maupun status sosial. Dan sebelum kita bisa mengatasi krisis BBM yang melanda negeri ini, kita bisa mencoba mengatasi krisis kesadaran kita terlebih dahulu. Ut Omnes Unum Sint!

Jumat, 17 Februari 2012

Peringatan Hari Doa Mahasiswa Sedunia 2012

Oleh : Fredy Umbu Bewa Guty

Universal Day of Prayer for Students (UDPS) atau Hari Doa Mahasiswa Sedunia adalah salah satu hari ekumenis tertua di dunia. Ini pertama kali dirayakan pada hari Minggu 13 Februari 1898 oleh World Student Christian Federation. Dan selanjutnya, Universal Day of Prayer for Students (UDPS) selalu diselenggarakan setiap minggu ketiga setiap bulan februari.

Di tahun 2012 Hari Doa Mahasiswa Sedunia diselenggarakan pada tanggal 19 Februari. Dengan topik doa yaitu Permasalahan Ekonomi. Permasalahan ekonomi yang saat ini mengguncang dunia khususnya di Eropa dan Amerika, yang akan berdampak pada ekonomi global menjadi sorotan WSCF. Dalam rangka Universal Day of Prayer for Students (UDPS), WSCF menyerukan agar seluruh mahasiswa di dunia untuk melakukan Doa bagi Keadilan Ekonomi di dunia.

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang bergabung dalam WSCF, menyerukan ke seluruh cabang, anggota dan mahasiswa Kristen se Tanah Air, untuk melakukan Doa Bersama untuk Keadilan Ekonomi pada tanggal 19 Februari 2012, pukul 20.00 WIB. Doa dapat dilakukan secara berkelompok (ibadah) ataupun secara pribadi-pribadi. Bagi yang ingin menggunakan Liturgi ibadah, Liturgi UDPS dapat di download di situs WSCF UDPS. (World Student Christian Federation)

Memperingati Hari Doa Mahasiswa Sedunia 2012, GMKI Salatiga akan melakukan doa bersama yang diselaraskan dengan acara penutupan Masa Perkenalan GMKI Salatiga 2012, bertempat di Yayasan Bina Darma Salatiga, pada Minggu 19 Februari pukul 21.00 WIB. Melalui ini, segenap civitas GMKI diundang untuk hadir dalam kegiatan tersebut.

Kamis, 02 Februari 2012

Kehidupan Iman dan Persekutuan Kristen

Oleh : Fredy Umbu Bewa Guty

(Bacaan : Kolose 3 : 5 – 17)


Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. (Kolose 3 : 11)

Walaupun bukan Rasul Paulus yang mendirikan jemaat Kolose, namun ia merasa berkepentingan untuk menyampaikan nasehatnya karena banyaknya ajaran dan guru-guru palsu yang menyesatkan jemaat. Inti sari surat Kolose adalah bahwa Tuhan Yesus sanggup memberi keselamatan yang sempurna dan ajaran-ajaran lain hanya menjauhkan orang dari Kristus. Selanjutnya Rasul Paulus menguraikan ajaran yang agung itu dengan kehidupan Kristen yang nyata.

Perikop bacaan ini berjudul “Manusia Baru”. Manusia baru adalah mereka yang oleh Rasul Petrus dikatakan sebagai orang yang terpilih dan terpanggil keluar dari kegelapan masuk kepada terangNya yang ajaib. (Lihat I Petrus 2 : 9)

Manusia baru adalah orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan karena kepercayaannya itu ia menerima anugerah keselamatan. Sebagai manusia baru ia hidup dalam pembaharuan dan terus menerus dibaharui oleh Firman Allah. (Lihat II Korintus 5 : 17)

Demikian pengantar singkat bahan Penelaahan Alkitab (PA) GMKI Salatiga yang akan dilaksanakan pada hari Jumat, 3 Februari 2012, pukul 17.00 WIB sampai selesai, bertempat di Selasar Depan Gedung E123 Kampus UKSW. PA ini akan dibawakan oleh Nn. Yuliana Nuhamara (anggota GMKI Salatiga). Kepada segenap civitas GMKI diundang untuk ikut mengambil bagian dalam PA tersebut.

Panggilan Kristen Yang Tritunggal Dalam Masa Revolusioner

Oleh : Dr. O. Notohamidjojo, SH (alm)

(Bacaan Alkitab: Markus 3 : 14, 15)

“Maka ditetapkannya dua belas orang supaya mereka bersama-sama dengan Dia, dan supaya mereka itu disuruh pergi mengajar orang dan lagi akan beroleh kuasa membuangkan setan”.

GMKI dan tiap orang Kristen hidup dalam dunia yang penuh dengan bahaya dan penderitaan.

Dalam bidang internasional kita menghadapi suasana yang labil di mana tiap saat, peperangan dapat meletus. Malahan peperangan itu dapat juga menjalar ke dalam batas-batas negara kita.

Di bidang dalam negeri, kita menghadapi kesulitan-kesulitan penyelenggaraan keadilan dan kemakmuran dan mengalami pergolakan ideologi yang masing-masing datang dengan retensi dapat menyelesaikan penderitaan di Indonesia.

Di tengah-tengah dunia internasional dan nasional yang demikian seremnya, GMKI dan tiap orang Kristen harus hidup dengan mata terbuka dan telinga terbuka. Tidak hanya pancaindera kita harus terbuka, melainkan juga hati dan akal kita harus terbuka. Kita harus hidup dengan “normbesef” dengan kesadaran akan norma. Kita harus mulai apakah suatu gerakan atau penganjurnya itu dari Kristus atau dari roh gelap. Kita jangan hidup “sleepwalker”, sebagai orang yang mengigau, melainkan kita harus hidup berjaga.

Di tengah-tengah revolusi yang sedang menggelora dan mengguntur dunia dan dalam hati manusia ini, kita boleh bertanya sambil berdoa kepada Tuhan kita yang hidup:
“Apakah yang harus kami perbuat. Apakah panggilan kami di tempat kami ini dan pada masa kini?”

Tidak banyak nats dalam Alkitab yang padat, singkat dan lengkapnya menggambarkan panggilan orang Kristen.

Supaya mereka bersama-sama dengan Dia, dan supaya mereka itu disuruh pergi mengajar orang dan lagi akan beroleh kuasa membuangkan setan”.

Marilah pagi ini, dalam rangka peringatan Dies Natalis GMKI XIII dan pada Kebaktian Doa Sedunia, kita bicara tentang Panggilan Kristen yang tritunggal dalam masa revolusioner,