Launching Komunitas Public Speaking LeerSchool

Kader-kader GMKI Cabang Salatiga dalam kegiatan Launching Komunitas public speaking LeerSchool di Yayasan Bina Darma.

Partisipasi GMKI Cabang Salatiga : Deklarasi Perdamaian Mahasiswa Salatiga

Berbagai elemen Mahasiswa pada hari ini Selasa 12 Agustus 2015, mendeklarasikan perdamaian bertema "Harmony in Diversity" yang bertempat di Selasar Kartini Salatiga

Pelantikan BPC GMKI Salatiga 2015 2016

Foto bersama PP GMKI dan BPC GMKI Cabang Salatiga 2015/2016 setelah upacara pelantikan di GKJ Sidomukti Salatiga .

Kunjungan ke Konfercab GMKI Surakarta

29 Juni 2015 GMKI Salatiga bersama GMKI Surakarta dalam konfercab GMKI Surakarta di Tawamangu.

Launching LeerSchool Salatiga

Launching leerschool : LeerSchool merupakan bentuk implementasi kurikulum PDSPK GMKI 2006, dilaksanakan di kampus Bina Darma, selama 2 hari (13-14 Juni 2015).

Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juli 2012

Manusia Otokritik


"Anda tidak akan bisa bebas memaksa orang lain untuk bisa memahami anda sepenuhnya, karena anda hanya diberikan kebebasan untuk bisa memahami diri anda sendiri dan orang lain, meskipun tidak akan bisa sepenuhnya."



Bagiku, semua manusia memiliki kecenderungan untuk anti terhadap kritik. Kenapa? Karena pada dasarnya manusia cenderung mencari yang enak saja. Buat aku pribadi, mengkritik adalah suatu keenakan tersendiri, lebih enak melontarkan kritik daripada menerima kritik. Dan pada akhirnya pula bisa disimpulkan, manusia yang sering mengkritik cenderung anti kritik atau tidak mau menerima kritik. Tapi, bagaimana rasanya jika manusia yang tukang kritik itu, akhirnya juga mengkritik dirinya sendiri? Tetap tidak enak –karena itulah, tulisan ini lama jadinya.

Seorang teman pernah mengutip kata-kata Arief Budiman, bahwa kritikan itu konsultasi gratis. Malangnya, kutipan semacam itu selalu aku buat untuk penguatan diri untuk semakin gencar mengkritik sana dan sini. Kenapa aku merasa malang terhadap diri sendiri? Karena aku sering lupa, bahwa aku juga memerlukan konsultasi gratis itu untuk bisa mengenal diriku sendiri. Aku sering lupa bahwa akupun juga hanya manusia biasa yang tidak bisa terlepas dari kritikan. Dan malangnya lagi, ketika aku lupa akan hal itu, aku menjadi manusia anti kritik.

Kritikan yang tidak enak untuk dirasakan, memang cenderung membuat manusia menjadi anti kritik, selain itu juga dapat membuat hubungan antar individu menjadi merenggang –setidaknya itulah yang aku amati dari orang-orang yang sering aku kritik. Itulah mengapa dulu aku semakin protes dan mengkritik orang yang tidak bisa menerima kritikanku. Dan itu semua adalah kelupaanku. Lupa pada diri sendiri, aku lupa untuk mengkoreksi diri, lupa untuk menurunkan arogansiku –bahwa aku juga manusia biasa, dan lupa untuk belajar dari kelupaanku.

Manusia anti kritik memang selalu lupa akan dirinya sendiri. Ini tidak perlu disimpulkan dari teori tokoh besar manapun, aku sudah cukup membuktikannya sendiri. Hampir semua kritikanku selalu berbicara mengenai orang lain, tanpa berkaca dari diriku sendiri. Hampir semua kritikanku bernada, “kamu harus seperti ini…,” bukan bernada, “kita sebaiknya seperti ini…,” atau malah bernada, “aku sebaiknya seperti ini…,” hampir tidak ada –hanya beberapa saja.

Tidak ada refleksi diri dalam manusia yang anti kritik, semuanya selalu berisikan orang lain. Bukankah itu sudah menunjukkan lupa akan diri sendiri? Pedahal aku manusia yang cenderung ingin mengenal diri sendiri, dan itu tidak akan bisa terjadi kalau aku selalu lupa akan diriku –yah, pada akhirnya manusia yang bisa mengkritik diri sendiri adalah manusia yang bisa mengenal dirinya sendiri, meskipun tidak sepenuhnya.

Dan untung saja, dari semua proses kelupaanku, aku tidak lupa untuk mencatat –meski tidak semuanya aku catat dalam tulisan. Sempat aku membaca ulang semua catatan yang aku tulis, beberapa catatan itu terasa memuakkan bila dibaca, rasa-rasanya aku ingin memukul orang yang menulis itu semua. Aku melihat sosok yang sok mengingatkan, sok kuat, sok pintar, sok sempurna, dan sok ingin dipukul.

Jadi, kalau besok-besok masih bertemu orang macam itu lagi, pukul saja, biar orang itu ingat kalau dia memang manusia yang sempurna, manusia yang sempurna lemahnya dan gobloknya.

Oleh: Evan Adiananta N.

Kamis, 10 Mei 2012

Krisis BBM: Kristus Bangkit Bagi Manusia (Sebuah Refleksi KebangkitanKristus)

Oleh: Evan Adiananta

Kamis, 3 Mei yang lalu, GMKI Cabang Salatiga mengadakan perayaan paskah di GKI Soka, Salatiga. Meski Hari Raya Paskah sudah lewat beberapa minggu karena ada beberapa kemungkinan yang membuat perayaan harus tertunda, mereka (GMKI) tetap memiliki rasa tanggung jawab di salah satu medan layan, yaitu gereja. Dengan tema “Krisis BBM: Kristus Bangkit Bagi Manusia”, GMKI bukan sekedar untuk bernyanyi memuji Tuhan dan mendengarkan khotbah, namun mereka juga mengajak beberapa kelompok etnis dan Komisi Pemuda GKI Soka untuk ikut merefleksikan Paskah dengan keadaan bangsa sekarang.

Paskah yang secara sederhana boleh diartikan sebagai pembebasan umat manusia dari dosa oleh kebangkitan Kristus, sebisa mungkin perefleksiannya tetap relevan dengan masa sekarang. Karena bila kebangkitan Kristus hanya dilihat sebagai penebusan dosa, maka tidak akan ada bedanya dengan dongeng anak-anak sebelum tidur. Jadi, bagaimana kita bisa coba lihat Paskah itu dari sisi lain? Apa tantangan kita –sebagai pemuda dan mahasiswa—untuk masa sekarang?

“Tantangan pemuda masa sekarang beda dengan pemuda yang lalu. Kebebasan yang mereka dapatkan sekarang, bisa membuat mereka terasing dengan dengan kebebasannya sendiri. Seperti kata Sekretaris Umum Sinode GKJ ketika kita sedang berdiskusi, bahwa pemuda dan mahasiswa sekarang sudah tidak pernah memperbincangkan politik. Mereka hanya peduli mengenai kuliah dan kehidupan hedonis yang memberikan kebahagiaan semu. Ini adalah tantangan kekinian,” penggalan kata sambutan dari Fredy Umbu Bewa Guty, selaku Ketua GMKI Cabang Salatiga.

Secara pribadi, aku memaknai penggalan di atas bukan hanya ingin mengatakan tantangan mahasiswa sebatas ketertarikan dan keikutsertaan dalam dunia politik. Aku lebih memaknainya sebagai tingkat kesadaran mahasiswa –yang konon katanya sebagai kaum intelektual—dalam menjalani tanggung jawab sosialnya dalam masyarakat. Mungkin sedikit terasa omong kosong ketika aku –yang juga masih berstatus mahasiswa—mencoba mengkritik tingkat kesadaran mahasiswa akan tanggung jawab sosial, memangnya kesadaranku sendiri sudah setingkat dewa apa? Tidak. Aku tidak hanya mengkritik mahasiswa lainnya, tapi aku juga mencoba mengkritik diri sendiri. Mari kita coba lebih dalam mengkritik –jika tidak suka menggunakan kata mengkritik, gunakan kata merefleksi—diri sendiri sekarang.

Kebangkitan Kristus tidak bisa lepas dari proses kematian-Nya di kayu salib. Proses itu terbingkai dalam sebuah drama “kesadaran” akan tokoh-tokoh yang berperan cukup penting; seperti Herodes dan Kayafas yang secara sadar merasa tersaingi dan takut posisinya tergeser oleh Yesus; seperti Yudas yang secara sadar menjual Yesus untuk bisa menjadi pelopor gerakan melawan penjajah Romawi, sayangnya dia salah perhitungan, akhirnya mati bunuh diri karena menyesal; dan seperti Pontius Pilatus yang dengan sadar bahwa dia tidak bisa menemukan kesalahan Yesus, tapi dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena keinginan orang banyak; serta Petrus yang takut dalam kesendiriannya, hingga akhirnya dia sadar telah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, setelah ayam berkokok.

Kesadaran diri sangatlah penting dalam mengkritik atau merefleksi diri sendiri, karena tanpa adanya kesadaran, kita sebagai manusia tidak akan mau untuk melihat, yang kemudian memperbaiki kekurangan dan keburukannya sendiri. Aku menjadi teringat akan diskusi dengan seorang teman mengenai makna kematian Yesus, terutama ketika Yesus bersorak meminta Bapa untuk mengampuni manusia yang tidak mengetahui apa yang mereka perbuat. Temanku memaknai permintaan itu bukan lagi sekedar pengampunan dosa manusia, tapi lebih pada keinginan dan peringatan Yesus untuk manusia bisa meningkatkan kesadarannya hari demi hari, tidak pernah berhenti untuk semakin mendekati tingkat kesadaran yang sama seperti Yesus.

Jika tingkat kesadaran manusia terus menerus naik tingkatannya, maka permasalahan-permasalahan manusia yang timbul akibat kurang kesadaran, seperti menyakiti perasaan orang lain, tidak peduli terhadap lingkungan sekitar, dan hanya mementing diri sendiri –padahal hidup dengan orang banyak, bisa sedikit demi sedikit teratasi. Itu semua karena kesadaran yang terbentuk, bahwa manusia tercipta tidak hidup sendirian, tapi berdampingan, saling membutuhkan, dan saling peduli –tidak peduli umur, jenis kelamin, maupun status sosial. Dan sebelum kita bisa mengatasi krisis BBM yang melanda negeri ini, kita bisa mencoba mengatasi krisis kesadaran kita terlebih dahulu. Ut Omnes Unum Sint!