Launching Komunitas Public Speaking LeerSchool

Kader-kader GMKI Cabang Salatiga dalam kegiatan Launching Komunitas public speaking LeerSchool di Yayasan Bina Darma.

Partisipasi GMKI Cabang Salatiga : Deklarasi Perdamaian Mahasiswa Salatiga

Berbagai elemen Mahasiswa pada hari ini Selasa 12 Agustus 2015, mendeklarasikan perdamaian bertema "Harmony in Diversity" yang bertempat di Selasar Kartini Salatiga

Pelantikan BPC GMKI Salatiga 2015 2016

Foto bersama PP GMKI dan BPC GMKI Cabang Salatiga 2015/2016 setelah upacara pelantikan di GKJ Sidomukti Salatiga .

Kunjungan ke Konfercab GMKI Surakarta

29 Juni 2015 GMKI Salatiga bersama GMKI Surakarta dalam konfercab GMKI Surakarta di Tawamangu.

Launching LeerSchool Salatiga

Launching leerschool : LeerSchool merupakan bentuk implementasi kurikulum PDSPK GMKI 2006, dilaksanakan di kampus Bina Darma, selama 2 hari (13-14 Juni 2015).

Tampilkan postingan dengan label Rumah Senior. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Senior. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juli 2015

Rasisme dan peace education

Diskusi rutin GMKI pada minggu ini, yang dilaksanakan di akhir pekan sabtu,4 juli 2015 mencoba mengangkat tema “Rasisme dan peace education” yang dibawakan oleh senior member GMKI yaitu bapak  Pdt. Dr. Daniel Nuhamara, M.Th yang dihadiri oleh kader-kader GMKI Cabang Salatiga baik BPC maupun anggota.
Bapa Dan membawakan materi dalam diskusi Rasisme dan Peace Education

Kegiatan diskusi yang dipandu oleh moderator yang juga adalah tuan rumah dan senior member yaitu kk Diane, dimulai dengan doa kemudian dibuka dengan pemaparan materi tentang rasisme dan peace education oleh pemateri atau yang akrab disapa bapa Dan. Dalam pemaparan materi bapa Dan membawakannya dalam arah konseptual dan pengalaman praktis beliau dalam mengikuti trainning di Amerika Seikat bersama para pemeluk agama lainnya dari indonesia, bapa Dan juga menekankan pada peran kader-kader GMKI Cabang Salatiga dalam menanggapi isu rasisme dan konflik dengan pendekatan resolusi damai yang mana akan menghasilkan win-win solution bukan win lose seperti penyelesaian konflik dengan jalur litigasi. Lebih jauh diskusi diarahkan kepada peran kader-kader GMKI Cabang salatiga sebagai fasilitator dalam menyelesaikan konflik dalam cakupan yang lebih sempit terutama di lingkungan sekitarnya.
Suasana Diskusi Rasisme dan Peace Education

Besar harapan dari bapa Dan agar peace education dapat dipelajari lebih dalam oleh kader-kader GMKI Cabang Salatiga untuk kemudian disebarkan ke komunitas-komunitas sekitarnya dalam rangka turut menggalang aksi sebagai gerakan global.
Kemudian dalam kesempatan ini juga kk Diane bersama para kader menyepakati untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut dari hasil diskusi ini dalam menanggapi isu-isu lokal yang ada disekitar lingkungan kader-kader GMKI Cabang Salatiga.
Kegiatan diakhiri dengan doa dan makan gorengan bersama.
Demikianlah diskusi kedua,di hari yang sama bersama senior, terima bapa Dan dan kk Diane.
Tinggi Iman, Tinggi Ilmu, Tinggi Pengabdian kita

Ut Omnes Unum Sint

Jumat, 03 Juli 2015

PA GMKI Cabang Salatiga : Menjadikan Hidup Lebih Berarti

Jumat 03/07/2015 pukul 17-20 bertempat di salah satu rumah senior GMKI Cabang Salatiga (Rumah K’ Diane Nuhamara), kegiatan PA kembali di laksanakan dan kali ini dengan tema “Menjadikan Hidup Lebih Berarti”.
Adapun pelayan firman yang membagikan kebenaran firman Tuhan pada sore itu adalah Sudari Rambu Kariri, dengan ayat firman yang terambil dari Efesus 4:21-24 dengan PERIKOP “Manusia Baru”.
Suasana PA dengan pembawa firman Ambu

Setelah selesai membagikan firman Tuhan, diskusipun dimulai dengan beberapa pertanyaan. adapun yang menjadi pertanyaannya yaitu :
1. Apa yang dimaksudkan dengan kata “berarti”?
2. “Berarti” seperti apa yang dikehendaki oleh Tuhan?.
Dua pertanyaan ini menjadi fokus diskusi pada sore itu, dengan membagi menjadi 4 kelompok kecil diskusipun dimulai dengan waktu diskusi yang ditetapkan 15 menit, setelah berdiskusi(mengenai 2 pertanyaan di atas) perwakilan dari tiap kelompok menyampaikan pokok-pokok hasil diskusinya (kesimpulan).
Dengan mengacu pada tema maka akan muncul pertanyaan “mengapa kita harus memiliki hidup yang berharga?“, lalu kita akan di bawa ke pertanyaan yang lain lagi yaitu “apa yang harus kita miliki agar kita berharga?”, pertanyaan itu mengandaikan makna “keberartian” kita, dan dalam pertanyaan seperti ini kita akan di hantarkan kepada pertanyaan yang lebih mendalam lagi yaitu “apa itu berarti?“.
Kata “berarti” dalam kamus besar bahasa indonesia diterjemahkan sebagai “mengandung maksud“, namun “berarti” juga bisa diartikan sebagai perhatian,penting,makna, atau gelar.
Untuk kata “perhatian” sebagai contoh bisa di jelaskan sebagai berikut: misalnya kekasih kita tak membalas sms kita, mungkin bagi sebagian orang hal itu biasa saja, namun bagi kita hal itu membuat kita tidak merasa nyaman, bayak pikiran negatif yang timbul akibat sms kita tak dibalas. nahh hal ini yang bisa digambarkan sebagai maksud dari kata “perhatian” dan karena kita memiliki perhatian kepada sang kekasih maka diri kekasih itu berarti bagi kita.
 
K"Diane dalam sesi diskusi pada saat PA
Lalu bagaimana jika kata “berarti” dikaitkan dengan kata “penting“. seseorang dikatakan berarti jika dia penting dalam hidup kita, atau penting dalam hal tertentu. misalnya dalam rapat dan dibutuhkan pengambilan keputusan maka kehadiran seorang Ketua Cabang sangatlah penting, maka hal penting inilah yang membuat diri seorang Ketua Cabang berarti.
Dari kesemua itu bisa dilihat bahwa “berarti” adalah makna tertentu yang diberikan kepada seseorang, atau bisa disebut juga sebagai “gelar” yang dimiliki. namun kita di perhadapkan kepada pertanyaan selanjutnya “berarti seperti apa yang dikehendaki oleh Tuhan?“.
Pertanyaan diatas mengandaikan sebuah makna/gelar atau tanda pada diri kita yang sesuai dengan kehendak Tuhan, hal ini mengingatkan kita kembali kepada sebuah kewajiban untuk menjalankan perintah Tuhan.
Kiranya dengan menjalankan kewajiban itu makan hidup kita akan memiliki arti yang diinginkan oleh Tuhan. lalu apa kewajiban itu? kewajiban itu adalah menjalankan Hukum Kasih (“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Mrk 12:30-31).
Semoga dengan menjalan kewajiban kita dalam menghidupi Hukum Kasih yang telah di firmankan akan menjadikan hidup kita dan orang lain lebih berarti dan berharga. dan semoga Yesus Kristus selaku Sang Kepala Gerakan menyertai dan memampukan kita untuk menjalankan Hukum Kasih itu.
“Syalom, Ut Omnes Unum Sint”

Oleh, Elyan Mesakh Kowi
SekFung Pendidikan Kader GMKI Cabang Salatiga