Launching Komunitas Public Speaking LeerSchool

Kader-kader GMKI Cabang Salatiga dalam kegiatan Launching Komunitas public speaking LeerSchool di Yayasan Bina Darma.

Partisipasi GMKI Cabang Salatiga : Deklarasi Perdamaian Mahasiswa Salatiga

Berbagai elemen Mahasiswa pada hari ini Selasa 12 Agustus 2015, mendeklarasikan perdamaian bertema "Harmony in Diversity" yang bertempat di Selasar Kartini Salatiga

Pelantikan BPC GMKI Salatiga 2015 2016

Foto bersama PP GMKI dan BPC GMKI Cabang Salatiga 2015/2016 setelah upacara pelantikan di GKJ Sidomukti Salatiga .

Kunjungan ke Konfercab GMKI Surakarta

29 Juni 2015 GMKI Salatiga bersama GMKI Surakarta dalam konfercab GMKI Surakarta di Tawamangu.

Launching LeerSchool Salatiga

Launching leerschool : LeerSchool merupakan bentuk implementasi kurikulum PDSPK GMKI 2006, dilaksanakan di kampus Bina Darma, selama 2 hari (13-14 Juni 2015).

Tampilkan postingan dengan label Salatiga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salatiga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Agustus 2015

Partisipasi GMKI Cabang Salatiga : Deklarasi Perdamaian Mahasiswa Salatiga

Partisipasi GMKI Cabang Salatiga : Deklarasi Perdamaian Mahasiswa Salatiga

Oleh, Elyan Mesakh Kowi
Anggota GMKI Cabang Salatiga


foto bersama mahasiswa salatiga yang terdiri dari berbagai Organisasi



Berbagai elemen Mahasiswa pada hari ini Selasa 12 Agustus 2015 mendeklarasikan perdamaian yang bertempat di Slasar Kartini Salatiga.
Kegiatan yang di mulai pukul 09.00 dan berakhir pada 10.30 diawali dengan doa bersama, kemudian pembacaan deklarasi perdamaian yang berisi beberapa poin penting sebagai berikut :

Kami akan menjunjung tinggi Ideologi Bangsa.
Kami akan menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kami akan merawat keragaman budaya Indonesia dalam rangka merawat Indonesia.
Kami siap menjadikan Kota Salatiga sebagai Kota Percontohan Kerukunan dan Perdamaian di Indonesia.

Selanjutnya Mahasiswa diberi waktu untuk membubuhi tanda-tangan disebuah spanduk yang telah disediakan sebagai bentuk partisipasi dan dukungan terhadap deklarasi tersebut. Kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama dan akhirnya di tutup dengan doa bersama.

Adapun Organisasi Mahasiswa yang ikut berpartisipasi yaitu HMI Cabang Salatiga, PMII Kota Salatiga, IMM Kota Salatiga, KAMMI Kota Salatiga, HIMPPAR Salatiga, HIPMMA Maluku, KEMAMORA Maluku Utara, PERWASUS Sumba,Mahasiswa Etnis Manado, Mahasiswa Etnis Toraja, IKMAPOS Poso, PERKASSA Kalimantan, Mahasiswa Etnis Bali, Mahasiswa Etnis Jawa, Mahasiswa Etnis Palembang, IGMK Batak Karo, dan GMKI Cabang Salatiga.

Tema yang menjadi dasar kegiatan ini yaitu,  “Harmony in Diversity :merawat keragaman merawat indonesia“.

Keragaman merupakan keunikan yang dimiliki oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia, keragaman atau pluralisme yang ada menjadikan Indonesia negara yang khas, unik dan benilai. Namun di sisi lain pluralitas dapat menciptakan konflik atau perpecahan dalam suatu negara akibat ketidak saling pengertian, missed communication , hal inilah yang harus di perhatikan dan dicermati.
Kehidupan Berbangsa dan Bernegara bisa diibaratkan seperti sebuah kehidupan keluarga, dimana dalam sebuah keluarga relasi menjadi kuncinya. Keharmonisan akan tumbuh, hidup dan berkembang dalam keluarga jika relasi antar setiap anggota keluarga intens dilakukan.

Relasi yang intens menjadi penting dalam keluarga karena meminimalisir kesalahpahaman dalam keluarga, yang nantinya akan mengakibatkan konflik, intensitas relasi dan komunikasi mejadi alat untuk mendekatkan setiap anggota dalam keluarga dan menjadi kunci menuju keharmonisan.
Begitupun halnya dengan kehidupan bermahasiswa. bagaimana kita bisa merawat keharmonisan dalam kehidupan bermahasiswa?.

“Dibutuhkan ruang publik untuk saling bertukar pikiran antar mahasiswa, ruang itu sendiri dapat menjadi ruang saling memahami, dan juga sebagai ruang relasi antar mahasiswa. Contohnya seperti Deklarasi Damai yang saat ini sedang kita lakukan bersama, inilah ruang publik tersebut, kiranya ruang-ruang seperti ini lebih intens diselenggarakan guna menjaga relasi antar mahasiswa demi menciptakan kehidupan yang harmoni itu sendiri.” 

Ruang publik menjadi sarana guna memberikan pemahaman yang utuh akan kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam hal ini konsep kesatuanlah yang menjadi intinya. Pemahaman akan konsep kesatuan, menjadi nyata dalam refleksi akan nilai-nilai dasar NKRI yaitu Pancasila, Pancasila menjadi Spirit yang selalu menyatukan kehidupan berbangsa dan bernegara.


Kader-kader GMKI Cabang Salatiga seusai kegiatan Deklarasi Perdamaian Mahasiswa Salatiga bertema "Harmony in Diversity"


Namun kurangnya pemahaman yang holistik atau keseluruhan akibat intensitas relasi dalam ruang publik sebagai bentuk refleksi kembali akan Nilai-Nilai pancasila, menjadikan Pancasila dimaknai secara sempit.
Untuk itu ruang publik (secara khusus dalam lingkup mahasiswa) harus dibuka lebih dan secara intens dilakukan, guna menjadi ruang refleksi akan nilai-nilai kesatuan, ruang saling tukar-pikiran, saling memahami, dan mengerti, antar masyarakat dan terkhususnya mahasiswa demi kehidupan yang harmoni .

“Intensitas relasi dan komunikasi mejadi alat untuk mendekatkan dan menjadi kunci menuju keharmonisan.”
Salam Mahasiswa, Syalom 
Ut Omnes Unum Sint.

Jumat, 27 Juli 2012

Kreatifitas di Tengah-tengah Trend Berwirausaha

Oleh: Evan Adiananta

Ketika saya mengamati jalanan di gerbang kecil belakang Universitas Kristen Satya Wacana, saya melihat warung-warung yang menjual makanan, berjejer dengan jarak yang dekat. Hanya butuh berjalan kaki beberapa meter dari warung makan khas Batak, saya sudah bisa menemukan warung Burjo (Bubur Kacang Ijo), lalu tak sampai 5 meter, saya sudah melihat warung makan Manado dan warung makan khusus penyuka lombok hijau. Dan semua warung makan itu, selalu ada pembelinya.

“Seperti presentasi dari cabang Banjarmasin yang ingin membuat Kafe Suka-suka, di Banjarmasin sudah ada kafe, ya buatlah kafe yang berbeda. Jika sudah banyak orang yang memiliki usaha sama, seharusnya kita menekankan sisi kreatifitas,” jelas Johan Jimy Carter Tambotoh, pembawa materi Berpikir Kreatif (26/7).

Kewirausahaan sekarang menjadi trend. Ada yang berwirausaha sendiri, maupun bersama-sama melalui jaringan. “Istri saya membuka online shop menggunakan akun Facebook-nya, dan pemesanannya sudah sampai ke Papua, dan tentu saja harga jualnya menjadi 2,5 kali lipat karena biaya transportasinya mahal. Tapi, bagaimana caranya untuk menekan biaya itu? Saya menghubungi teman di sana, untuk kemudian dia distribusikan. Itulah pentingnya jaringan,” ungkap Johan.

“Saya berharap bahwa kalian bisa menggunakan waktu pelatihan ini, untuk mencari dan membangun jaringan,” tambahnya.

Namun, seorang yang berwirausaha bukan hanya membutuhkan keahlian dan kecakapan berpikir kreatif. Wirausahawan juga membutuhkan motivasi. “Keahlian dan kecakapan berpikir kreatif saja tidak cukup, tapi motivasi untuk menumbuhkan niat berwirausaha juga penting,” kata Johan.

“Kalian tak perlu menunggu ide atau sesuatu yang baru untuk mulai berwirausaha, kalian bisa menggunakan Teknik Visual Thinking; Seeing, Drawing, dan Imagining atau Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM),” pesan Johan.

Berwirausaha = Bercinta

Oleh: Andri Sabarua

“Apa yang akan kalian lakukan, ketika kalian jatuh cinta?” tanya Andeka Rocky Tanaamah, salah satu fasilitator Training Kewirausahaan GMKI, saat membawakan materi Berpikir Perubahan (26/7). Kemudian peserta menuliskan jawaban, lalu mereka mengumpulkannya. Rocky membacakan satu persatu jawaban yang sudah terkumpul, mulai dari jawaban yang kosong hingga jawaban melankolis.

“Jika aku jatuh cinta, aku akan melakukan segalanya untuk mendapatkannya,” salah satu jawaban yang terkumpul.

Korelasi antara sedang jatuh cinta dan berwirausaha adalah sama-sama membutuhkan hasrat. Tapi kadar hasrat ketika sedang jatuh cinta lebih besar dibandingkan dengan hasrat untuk berwirausaha. Ketika kadar hasrat berwirausaha sudah cukup mampu memotivasi, maka bukan hal yang tidak mungkin lagi untuk menjadi seorang entrepreneur.

“Jadikan hasrat untuk berwirausaha seperti hasrat ketika kita sedang jatuh cinta,” kata Rocky.

Seorang entrepreneur memiliki pola pikir yang sangat menonjol. Ia akan selalu mencari “hal yang baru ” ataupun alternatif yang lain untuk meningkatkan kualitas produksi barangnya maupun keberagaman barang produksinya. Di sinilah hasrat serta nilai kreativitas seorang entrepreneur akan diuji. Bagaimanapun dia harus bisa berhasrat untuk berkreasi menciptakan inovasi. Pembentukan mindset ini juga dipengaruhi oleh seberapa besar motivasi kita. Baik terhadap usaha kita sekarang ataupun terhadap diri sendiri.

“Berdasarkan penelitian, setiap hari manusia melakukan self-talk sebanyak 55.000-60.000 kali. Dan hampir 77% monolog tersebut bersifat negatif dan melemahkan dirinya,” kata Rocky.

Dibutuhkan hasrat yang kuat, serta motivasi yang positif untuk memulai sebuah usaha. Sama seperti sedang jatuh cinta, kita akan memiliki hasrat yang tinggi untuk mencapai tujuan kita –dicintai calon pasangan—serta motivasi yang jelas. Begitu pula untuk memulai suatu usaha. Selain hasrat dan motivasi, seorang entrepreneur juga membutuhkan kreatifitas yang diimplementasikan menjadi suatu inovasi yang disertai dengan kegigihan.


Rocky menegaskan bahwa besarnya perubahan dalam hidup seorang calon entrepreneur, ditentukan oleh seberapa besar ia bisa mengubah mindset atau pola pikirnya, dan seberapa besar hasrat yang dimilikinya untuk memulai usaha.

Kamis, 26 Juli 2012

Melihat Hambatan Sebagai Peluang

Oleh: Evan Adiananta

Bekerja sama dengan Yayasan Bina Darma (YBD), Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) mengadakan “Training Kewirausahaan Berbasis Potensi Lokal” untuk GMKI se-Indonesia. Dari 81 cabang yang ada, hanya 17 cabang yang menghadiri hari pertama training ini (25/7).

“Karena ini adalah program di bidang kewirausahaan, yang masih baru terbentuk (dua periode lalu – Red), maka kita ingin memperkenalkan bidang ini ke semua anggota GMKI di seluruh cabang,” kata Santo Gotia, Sekretaris Fungsional Kewirausahaan PP GMKI.

Santo menekan pula, bahwa dengan training ini peserta bisa menerapkan apa yang sudah mereka dapatkan. Sehingga, ketika pulang ke cabang masing-masing, dapat mengembangkan kemandirian cabang.

“Meskipun kita tidak bisa melihat perubahannya langsung, tapi untuk 4-5 tahun ke depan kita bisa merasakan perubahannya. Dan kita juga menyadari bahwa ini tidak akan bisa hanya dengan 4 hari pelatihan ini saja,” ungkap Santo.

“Awal Agustus nanti, kita juga akan mengadakan follow up pelatihan ini, khusus untuk pulau Jawa dulu,” tambahnya.

Andeka Rocky Tanaamah, biasa dipanggil Rocky, datang sebagai pemateri tunggal hari pertama, di sesi satu. Selaku senior GMKI dan Sekretaris YBD, ia menekankan bahwa berwirausaha itu penting untuk keberlangsungan dan kemandirian GMKI di tiap cabang.

“Selama ini GMKI seringnya hanya bawa proposal datang ke senior untuk minta uang. Dengan adanya ini, nanti kalian bisa datang terakhir kalinya ke senior, hanya untuk minta modal awal berwirausaha, setelah itu kalian bisa berjalan dengan mandiri,” tegas Rocky.

Standy Christianto, salah satu peserta dari cabang Purwokerto sempat bertanya apa kenikmatan menjadi wirausahawan. “Dengan berwirausaha, kamu bisa bebas, semuanya kamu kerja sendiri dan hasilnya untuk diri sendiri. Bayangkan jika kamu bekerja di sebuah perusahaan milik orang lain,” jawab Rocky.

“Seorang wirausahawan sejati tidak akan melihat hambatan sebagai masalah, tapi melihat hambatan itu sebagai peluang. Dan kalian harus bisa melihat peluang itu dari potensi lokal yang ada di daerah kalian,” pesan Rocky.